Andai Aku Kamu “Salah dianggap benar, benar dianggap salah” *** Senja bukanlah tanda akhir dari berhentinya matahari menyinari bumi, tapi senja adalah tanda munculnya sang pemantul cahaya yang akan menggantikan sang mentari. Kadang malam akan lebih mengerikan dibandingkan siang. Akan tetapi malam juga akan terlihat sangat indah dibandingkan siang. Teringat suatu kejadian saat itu, kejadian yang menimpa banyak pihak. Sampai terjadi perpecahan yang terjadi pada pertemanan di antara kami. Awalnya kami itu satu, kami bagai kuku dengan daging. Suatu ketika aku sedang mengasong dengan temanku di jalan raya. Kami duduk dipinggiran jalan seraya melihat-lihat. Aku mulai bertanya pada temanku. “Sep, kamu pikir yang kita lakukan ini salah atau tidak?” “Memang kenapa? Bukankah ini satu-satunya cara agar kita bisa lunasi tunggakan pembayaran?” “Iya sih. Tapi.. aku pikir mengasong itu salah.” “Kenapa?” “Kalau nggak salah, kenapa para pengasong ditangkap satpol pp?”...
Ini Bukan Hanya Tentang Diriku (Bukan sebuah awal, mungkin sebuah akhir dari semuanya) Hujan deras menyerbu bumi, sangat lebat. Suara guntur yang tak kalah kalah keras dari rintikan hujan. Hari apa sekarang. Apa yang harus aku lakukan. Mengingat semua itu, aku duduk sejenak di atas kasur sambil menatap ke arah lantai. Aku berdiri dan mencoba melihat ke arah jendela. Suara rintikan hujan yang tak berhenti ini seperti mengiringi gelapnya rumah karena listrik yang padam. Apa sebenarnya yang sedang aku pikirkanku. Mungkin aku akan berusaha merubah semua ini. Siapa memangnya aku, lagipula aku hanyalah seorang anak SMK. *** Tidak cukup dikenal orang banyak, namaku Adrian Pratama. Aku hanya dikenal oleh teman-teman sekelasku. Yah, itu pun tidak apa. Saat itu aku duduk sendirian di depan kelas. Secara tiba-tiba seorang temanku mengagetkanku dari belakang. “Oy.” Aku terkejut dan ia terlihat tertawa terpingkal-pingkal. “Apaan sih.” “Kenapa? Bingung?” “Sial, aku tersing...
Andai Aku Kamu "Bedakah Kita?" Tidak terlalu pintar, tidak terlalu tahu, dan tidak perah bisa berubah. Itulah sebutan-sebutan yang sering dilontarkan temanku kepadaku. Mereka tidak tahu kala sebenarnya, aku sudah berusaha. Aku berusaha untuk berubah. Mungkin hanya Lia yang mengerti keadaanku sekarang. Sering kali aku putus asa dan saat itu pula Lia mencoba menenangkanku. Dia terus membantuku untuk berubah. Aku ingin membuktikan kepada teman-temanku kalau aku ini bukannya tidak pintar, tapi belum pintar. Yah.. Belum. Pagi itu sekolah mengadakan upcara bendera. Aku sudah siap sebelum teman-temanku berada di lapangan ini. Ak u menunggu di belakang. Beberapa saat kemudian, anak-anak sekolah semuanya mulai berdatangan. Aku mulai berjalan dan berdiri di barisan paling belakang. Saat mereka melihatku di belakang, Amir menarik bajuku yang membuat aku terbanting ke bawah. "Udah berani di belakang ya? Sana maju." Ucapnya dengan nada teriak Aku berjalan ke...
http://aditya2004.blogspot.com/2015/03/film-flash-this-titl-2_12.html
BalasHapus